Dari judulnya aja dah ketahuan klo postinganku kali ini isinya curhatanku karena jadi pengangguran (lagi).. ^^
Berbeda dengan postinganku akhir Juni lalu, sekarang aq dah lulus dari STAN. Hmm, klo dipikir-pikir kayaknya aq tuh ngeblog klo jadi pengangguran aja ya.. He3x. Ya, setelah disibukkan dengan pkl, laporan pkl, kompre, dll., akhirnya aq lulus juga walaupun dengan ip rata-rata. Kelulusanku ditandai dengan yudisium pada tanggal 2 November kemarin, yang menandai pula dimulainya hari-hari yang aneh part. 2.
Kali ini hari-hariku dihabiskan di rumah. Jadi ya walaupun ga ada kerjaan alias pengangguran, aq ga terlalu menghabiskan uang ortu karena lagi di rumah. Sebenarnya hari-hari kosong ini dalam rangka menunggu wisuda yang akan diadakan 10 November besok, dan melengkapi berkas-berkas syarat CPNS (yang ga ngerti kenapa aq males banget mau ngurusnya).
Hari-hari kosong ini aq lewati dengan kegiatan2 di rumah kayak bikin papercraft gundam (yang sekarang dah ga dilanjutin lagi, stres partnya kebanyakan.. ^^), main rubik (kapan-kapan aku posting cerita tentang hobiku satu ini), nonton tv, ma pacaran. Pacaran??! Ya, kali ini statusku dah ga single lagi. Udah punya pacar, malah pinginnya jadi calon istri sekalian, he3. Soalnya aq merasa udah bukan waktunya lagi buat main-main.
Sekarang aq juga udah ga males-malesan terus buat ngisi liburan. Kerjaan rumah tangga kayak nyapu, ngepel, cuci piring, beres-beres rumah juga aq kerjain. Jadi hari-hari yang aneh sekarang dah ga seaneh masa masih kuliah dulu. Semoga aja masa "liburan"ku ini cepet berakhir, cepet-cepet magang, penempatan, kerja, merit.. Hohoho... ^^ Jangan bosen-bosen ngikuti curhatku ya...
Hari-hari yang Aneh Part. 2
Hari-hari yang Aneh
Udah sejak hari Jumat (26/6) kemaren aq resmi ga ada kuliah lagi di STAN. Yang tersisa hanya tinggal penyusunan outline PKL, PKL, laporan PKL, and 3 hari kompre abis lebaran. Awal-awal abis ujian aq menikmatinya. Apalagi kuliah semester akhir kemarin memang cukup menguras pikiran berhubung mata kuliahnya semua lab yang diisi dengan praktek2 mulai dari perhitungan pajak sampai pengisian SPT. Sebagai mahasiswa yang cenderung ga ngerti apa-apa aq senang semua itu sudah terlewati.
Hari-hari awalku diisi dengan mengerjakan buku angkatan kelasku, ya aq yang dipercaya untuk menghandle desain BA kelasku. Bukan karena paling jago desain, mungkin lebih karena ga ada yang mau.. he3. Ni salah satu hasilnya...
Buku angkatan selesai kemarin, hari selasa pagi (30/6). Dimulailah hari-hari yang aneh ini. Karena kecapekan ngerjain BA, aq tidur seharian. Bangun cuma buat makan. wiiiiih...bener2 kayak pemalas banget.. apalagi anak kosku yang tingkat 3 spesnya akuntansi semua, jadi ya tambah ngerasa aneh, soalnya mereka masih kuliah.
Huff...pengen cepet pulang. Hari jumat (3/7) ini aq berencana ketemu dosbing, lalu ngerjain outline. Tanggal 13 nanti ada pengarahan PKL, sorenya pulang ke Purbalingga lalu berangkat ke jogja buat PKL, and berakhir hari-hari aneh ini.. wkwkwkwk...
Jogja, I'm coming....
Pajak dan Kampanye Capres
Setelah Pemilu Legislatif usai dan para capres/ cawapres ditetapkan, ingar-bingar ramainya pesta demokrasi kembali digelar. Pesta demokrasi rakyat yang baru akan digelar tanggal 8 Juli 2009 mendatang tampaknya terus menarik perhatian berbagai kalangan. Rakyat akan mendengar berbagai janji dari para capres. Sayangnya, belum satu pun capres atau cawapres yang menjelaskan perihal pembiayaan atau sumber dana untuk menjalankan program kerja yang akan mereka laksanakan. Padahal, membicarakan program kerja sejatinya membicarakan pengeluaran. Tapi mengapa tidak pernah disinggung soal penerimaannya?
Kenapa pajak?
Sekarang, mari kita sama-sama menantikan program kerja serta concern mereka tentang pajak. Kenapa mesti pajak? Karena penerimaan pajak merupakan penyumbang utama terhadap penerimaan negara. Saat ini, lebih dari 70% penerimaan negara untuk tahun anggaran 2009 berasal dari penerimaan pajak.
Menarik untuk menyimak bagaimana program Barack Obamadan John McCain tentang rencana perpajakan {tax plan) saat masih menjadi capres Amerika Serikat
Pada lax plan Obama, orang kaya Amerika akan dikenakan pajak lebih tinggi. Sementara mereka yang berpenghasilan menengah ke bawah akan membayar pajak lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya. Sementara dalam tax plan versi McCain, pajak bagi orang kaya akan menurun serta sedikit penurunan bagi kaum menengah ke bawah.
Para pengamat pajak memperkirakan, rencana kebijakan perpajakan Obama akan mengakibatkan meningkatnya penerimaan sektor pajak (yang berasal dari pemajakan lebih bagi orang kaya). Adapun kebijakan McCain akan mengakibatkan bertambahnya defisit pemerintah federal.
Kita tidak membahas lebih jauh tentang rencana kebijakan perpajakan Barack Obama dan John McCain. Yang pasti, dimasukkannya rencana kebijakan perpajakan pada kampanye mereka menunjukkan bahwa mereka concern terhadap pentingnya penerimaan pajak sebagai tulang punggung penerimaan negara yang akan dipimpinnya. Mereka sadar betul, penerimaan pajak adalah tulang punggung pembiayaan negara.
Undang-Undang Pajak telah merumuskan bahwa pajak adalah kontribusi wajib kepada negarayang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat.
Jadi, adalah mustahil jika kita berbicara tentang program menyejahterakan kehidupan rakyat, dan berbagai macam program memakmurkan rakyat, tanpa berbicara tentang pajak.
Tidak ada sumber pembiayaan lain selain pajak dan pinjaman luar negeri untuk memakmurkan rakyat. Pilihan itu ada di tangan para capres dan cawapres.
Pajak tak disinggung
Peranan penerimaan perpajakan dalam APBN dari tahun ke tahun kian menjadi penting. Untuk tiga tahun terakhir, misalnya, pendapatan negara dan hibah sebesar Rp 694 triliun (2007), Rp 895 triliun (2008), dan Rp 985 triliun
(2009). Dari jumlah itu, bagian terbesarnya merupakan pendapatan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan. Lihat saja jumlah yang disumbang pajak Rp 492 triliun (2007), Rp 609 triliun (2008), dan Rp 725 triliun (2009). Tampak jelas bahwa pajak memang merupakan soko guru penerimaan negara.
Pada kampanye Pemilu Legislatif, sangat banyak janji yang digaungkan para calon legislatif. Tapi, hampir 100% janji yang mereka sampaikan adalah janji yang berkait dengan belanja negara Sebut saja program pengentasan kemiskinan, program bantuan langsung tunai, pendidikan gratis, kebutuhan pokok murah, kesehatan membaik, jalan dan jembatan tersedia, dan berbagai program lain yang akan menjadi sisi belanja negara.
Hampir tidak pernah kita mendengar kampanye tentang bagaimana caranya menghimpun pendapatan untuk membiayai berbagai janji tersebut.
Pada suatu kesempatan, ketiga pasang capres atau cawapres telah menyampaikan visi ekonomi masing-masing. Visi mereka sama visi ekonomi kerakyatan, meskipun dengan istilah berbeda-beda. Target pertumbuhan ekonomi yang dijanjikan pun berbeda-beda. Tapi, seperti sebelumnya, perihal penerimaan negara dari pajak tidak mereka singgung.
Sumber : Harian Kontan, www.pajak.go.id
Penulis Diding Jamaludin,
Kasubdit Penyuluhan Perpajakan
Kantor Pusat Ditjen Pajak

